Kumpulan Info Modem & Paket Internet Terbaru

Perang Tarif Murah Antar Operator Seluler Kian Merajalela Bikin Sekjen ATSI Angkat Bicara


Situs-Modem.Com – Semenjak hadirnya layanan internet 4G LTE di Indonesia 2 tahun belakang ini membuat operator seluler menawarkan paket internet dengan harga murah. Perang tarif pun tak bisa terelakan. Masyarakat disuguhi daftar harga paket internet dengan harga murah dan kuota super besar. Alhasil masyarakat pun banyak yang melakukan perbandingan harga paket operator satu dengan operator lainnya.

Penentuan harga atau tarif internet seyogyanya operator seluler berskala nasional harus mulai bergerak ke arah rasional. Hal ini dilakuan agar tetap menjaga kelangsungan usaha perusahaan itu sendiri. Pasalnya perhitungan tersebut  harus sebanding dengan daya beli masyarakat Indonesia, meskipun tidak mengurangi kualitas layanan. Sehingga nantinya tidak ada lagi pelanggan yang merasa kecewa dan melakukan hal merugikan seperti kejadian yang belum lama ini berlangsung, defacing situs Telkomsel karena mahalnya tarif.

Dikatakan Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) yang juga wakil Direktur Utama Tri Indonesia M. Danny Buldansyah bahwa “Industri seluler ini ada anomaly. Operator yang menjadi pusat ekosistem, kondisinya berdarah-darah, hanya ada satu yang stabil kinerja keuangannya. Tetapi, di sector pendukung seperti penyediaan menara dan distributor kartu, sehat banget kondisi keuangannya. Ini kan ada yang gak bener. Salah satunya karena penetapan tarif tak dilandasi cost margin, tetapi berbasis kondisi pasar, akhirnya yang dikorbankan profit dan sustainability dari bisnis,” (Diskusi Media yang digelar Forum Lingkar Kuningan di Jakarta, Senin (29/5).

Menurutnya operator seluler saat ini dalam menentukan tarif tak dilandasi cost margin, tetapi berbasis kondisi pasar, akhirnya yang dikorbankan profit dan sustainability dari bisnis.

Lanjutnya bahwa jika operator bisa menjaga net profit sebesar 10% dari pendapatan usaha (Top Line) itu sudah hal yang bagus. “Harga itu relatif terhadap income. Masalahnya banyak operator melakukan kesalahan dengan cenderung memberikan gratis ke pelanggan tanpa edukasi. Konsekuensinya, ketika mencoba menyehatkan tarif itu menjadi berat, karena ada pemain lain melakukan hal sama (memberikan gratis -red),” jelas Danny.

Sementara itu disampaikan Direktur Service Management XL Axiata Yessie D. Yosetya, selama ini XL disebutnya sudah menawarkan tarif yang sesuai dengan profil yang ditargetkan.

“XL mengemas produk sesuai dengan karakteristik pengguna. Tentunya semua komponen cost sudah diperhitungkan, termasuk memperhitungkan profitabilitas produk,” ujarnya.

Meski begitu Yessie mengakui kalau penawaran tarif promosi bisa dibilang sebagai ongkos belajar yang dilakukan XL selama ini. “Tapi kami sudah mulai pangkas itu bonus kuota. Kita juga sudah lakukan efisiensi agar profitabilitas bisa lebih terjaga,” imbuhnya.

Analis dari Bina Artha Securities Reza Priyambada melihat kompetitifnya tarif yang ditawarkan operator tak lepas dari mekanisme pasar.

“Ada permintaan tarif murah tetapi pelayanannya lebih. Kalau dilihat EBITDA dari emiten operator itu di kisaran 40%-60%, artinya ada pendapatan yang terpangkas operasional sebesar itu. EBITDA ini kan menunjukkan kesehatan keuangan dari perusahaan,” ujarnya.

Sedangkan Investigator Utama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Daniel Agustino mengatakan, jika ingin meihat rasional atau tidaknya tarif yang ditawarkan, operator harus mensurvei langsung konsumen di pasar bersangkutan.

“Harus dilihat jika konsumen ada permintaan terus, dan harga turun, berarti harga yang sebelumnya ditawarkan itu bisa jadi kemahalan. Nah, kita harus bisa lihat sampai di titik mana itu harga turun,” katanya.

Anggota Komisi Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) I Ketut Prihadi Kresna mengatakan, sejauh ini operator sudah maksimal melakukan efisiensi untuk bisa memberikan tarif kompetitif bagi pelanggan. Sementara Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menilai, sewajarnya margin yang diambil operator di kisaran 35%-50% demi menjaga kelangsungan usaha.

“Formulasi tarif yang dibuat regulator itu untuk memberi keleluasaan bagi operator dalam berkompetisi, sekaligus juga mencegah operator menerapkan tarif yang terlalu rendah. Artinya sudah diberikan keleluasaan,” pungkasnya.

Baca Artikel Menarik Lainnya :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *